Sabtu, 23 Mei 2015

Ketika Dihina Orang Lain

۩۞۩ سْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم ۩۞۩

"In the name of Allah most merciful and most benefict."

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh..


       Penulis sudah lama nih tidak ngeshare artikel, maaf yaa. Karena telah menjalani perjalanan yang menegangkan sebagai murid kelas XII. Buset. Iya, dikejar deadline. Bimbel, Bimbel Diknas, Ujian Praktik, Ujian Sekolah, ENAS CBT. Buset kuadrat. Alkhamdulillaah semua itu sudah berakhir. Tak lepas dari tahapan kelulusan dari SMA, saya ditarik kembali oleh tahapan-tahapan verifikasi untuk menjadi mahasiswa baru Universitas Airlangga. Dijalani saja dan tidak lupa mengucapkan Alkhamdulillaah.

       Pada kesempatan kali ini, penulis ingin ngeshare artikel penyemangat ketika kalian merasa dihina dan dikucilkan. Semoga bermanfaat, saya tentu senang sekali bila sangat membantu. JazakAllah khayr.

       Galau? Kata ini biasanya keluar kalau seseorang mendapat hinaan atau kritikan yang tajam dari pihak lain. Ada saat saat dalam pergaulan, kau mungkin merasa direndahkan, merasa terhina atau merasa diremehkan karena kedudukan, status sosial atau jenis pekerjaanmu. Lalu kau merasa direndahkan sedemikian rupa,  hingga kau merasa dikucilkan atau merasa tak dianggap sama sekali atau bahkan tak “diorangkan” oleh orang lain, sabarlah  dan ucapkan: Alkhamdulillah!



       Loh gimana sih, lagi dihina orang kok alkhamdulillah? Ya,  karena pada saat kau merasa dihina atau memang betul-betul dihina atau bahkan mungkin dicaci maki dihadapan orang banyak, katakan “alkhamdulillah” mengapa ? Karena pada saat itu sedang terjadi transfer yang luar biasa cepatnya, dimana pahalamu sedang bertambah dari orang yang menghinamu, sedangkan dosa-dosamu sedang diambil orang yang sedang menghinamu. Nah bukankah itu membahagiakan, mendapat pahala gratis dan terhapus dosamu tanpa usaha.

       Susah memang pada awalnya, dihina kok alkhamdulillah? Yang jelas, tak perlu merasa terhina saat dihina orang lain, karena orang yang mudah menghina orang lain adalah bukan orang yang mulia. Jangan-jangan lebih hina dari orang yang sedang dihina. Lagi pula, Tuhan dalam firmanNya mengatakan” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan ” (QS Al Hujurot, 49:11).


       Jelas sekali kan firmanNya itu. Jadi mengapa perlu bersedih atau sakit hati bila dihina orang lain ? EGP aja, Emangnya Gue Pikirin! Lagi pula hinaan itu ibarat kawah candradimuka, hati itu digodok sedemikian rupa, agar tak mudah goyah, tabah dan sabar. Jadilah ilalang yang diinjak-injak orang masih tetap hidup atau jadilah seperti baja yang makin di tempa, makin di palu makin kuat.     

       Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa orang yang mulia sangat menghargai orang lain dan mudah memaafkan orang lain yang bersalah kepadanya. Jika terjadi sebalikknya itulah orang yang hina. Memang dalam kehidupan, orang  begitu merasa sakit di hati bila mendapat penghinaan dari orang lain, sampai-sampai mungkin tidak bisa tidur karenanya, boleh jadi menimbulkan dendam yang membara hingga ada niat untuk membalas rasa sakit hati tersebut pada orang yang telah menghinannya.

       Namun bila dihadapi dengan hati yang jernih, saat di hina, justru “alkhamdulillah” karena saat itulah kita dapat mengetahui kualitas akhlak orang lain, saat itulah kita dapat mengetahui siapa sesungguhnya orang yang sedang menghina itu. Dan jangan lupa,  orang yang suka sekali menghina orang lain, sebenarnya sedang menghina dirinya sendiri, satu telunjuk dia arahkan pada orang lain, ke empat jarinya yang lain sedang mengarah pada dirinya sendiri.


       Dan boleh jadi saat dihina kita segera dapat mengintropeksi diri, jangan-jangan kita memang pantas untuk dihina, karena kelakuan, perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika memang hinaan itu benar, kata “alhamdulillah”pun masih tepat, karena secara tidak langsung, orang yang sedang menghina itu telah menunjuki kesalahan kita.

       Alkhamdulillah, ada “konsultan”  gratis yang tanpa diminta telah menunjukan kesalahan kita. Dengan demikian, kita akan segera memperbaiki diri. Nah bukankah hinaan itu membawa hikmah? Nah bukankah kalau kita mendapat hikmah, kita bersyukur? Sedangkan kata yang paling tepat untuk bersyukur adalah alkhamdulillah.


       Kata alkhamdulillah kelihatanya sederhana, namun mengadung makna yang luar biasa. Bila saat dihina atau merasa dikucilkan saja sudah mampu mengucapkan alkhamdulillah, apa lagi bila mendapat rejeki, pujian atau mendapat sesuatu yang baik, sudah sepantasnya kita mengucapkan kata “alkhamdulillah”, segala puji bagi Allah, kita kembalikan pujian tersebut kepada Allah SWT yang paling berhak untuk dipuja dan dipuji karena Dia memang Maha Terpuji dan tak ada kata yang mampu mengatasi pujian untukNya yang datang dari diriNya sendiri, kecuali kata: “ alkhamdulillah”


       Kembali kepada hinaan orang, rumus yang paling sederhana untuk menghadapinya tadi ya dengan kata EGP diatas, Emangnya Gue Pikirin. Ini kalimat sederhana, tapi mampu meredakan kegalauan di hati. Karena dengan tidak memikirkan hinaan orang lain, produktifitas kerja akan terus terjaga, yang penting kerja, kerja dan kerja, tentunya dengan terus menerus meningkatkan kualitas kinerja itu sendiri dan tetap berprinsif: kerja itu ibadah dan amanah. Maka harus tetap dijaga dan dipelihara. Dan kalau mau diuraikan kata EGP, selain Emangnya Gue Piikirin, bisa juga berarti sebagai berikut:

Pertama, hurup” E” empati, merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kalau diri sendiri tak mau dihina orang lain, maka jangan menghina orang. Engkau hanya seorang manusia biasa, tak luput dari salah, khilaf dan dosa. Jadi ketika hinaan yang datang  padamu, ya biasa saja mengahadapinya. Kecuali kalau hinaan itu sudah menjurus kepada kebencian yang penuh dendan kesumat, sehingga hinaan tadi menghancurkan harga dirimu, ya ada hak untuk melawan untuk memberikan pelajaran bagi orang yang suka menghina itu. Karena yang menghinapun belum tentu lebih baik dari yang dihina! Lihat ayat di atas. Jadi mengapa takut? Tak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah SWT, takut yang dapat menyebabkan ketundukan padaNya.


Kedua, hurup” G” giatlah dalam pekerjaan dan usaha, lawan hinaan tersebut dengan kerja giat dan usaha yang terus menerus, jadikan hinaan tersebut semacam obat, pahit tapi menyembuhkan. Atau jadikan hinaan itu semacam racun yang kau rubah menjadi obat yang mujarab. Persis seperti bisa ular yang dijadikan lambang setiap apotik.

Coba perhatikan kenapa ular yang dijadikan lambang di setiap apotik tersebut, bukannya binatang lain? Ya itu tadi, racun dijadikan obat! Kok bisa? Jangan lupa, hinaan yang sering kau terima bisa jadi melatih dirimu atau jiwamu menjadi kebal terhadap hinaan tersebut. Hingga ketika dihina orang tak mudah lagi tersinggung, dengan demikian hati tak mudah menjadi galau, resah, gelisah atau susah. Hati menjadi lapang, ngapain menanggapi hinaan, bolehkan membalas hinaan? Ya boleh saja, kalau mau!

Namun membalas hinaan dengan hinaan juga, itu ibarat api dibalas dengan api, apinya bukan padam, bahkan semakin panas dan membara, iyakan? Bukankah api dapat dipadamkan dengan air, maka lawanlah hinaan tadi dengan kata-kata yang baik, lembut dan bijaksana atau lawanlah hinaan tadi dengan giat bekerja atau meningkatkan kinerja, kalau hinaan itu tentang pekerjaanmu.

Ketiga, hurup” P” pikirkanlah lebih dahulu setiap mendapat hinaan atau kritikan yang merusak, kalau kritikan yang membangun itu sudah tentu baik adanya, tapi kalau kritikan tujuannya hanya untuk merusak atau hanya penghinaan yang terselubung, ya pikirkan juga, jangan-jangan itu sinyal bagimu juga. Untuk menghadapi hinaan yang sudah keterlaluan, perlu berpikir positif atau tetap berpikir positif, agar tak mudah tersulut. Karena biasanya kalau orang mudah tersulut atau terbakar terhadap hinaan yang datang, maka emosinya meluap-luap, meledak-meledak atau bahkan bisa tak terkendali.

Nah yang begini ini akan susah jadinya. Karena kalau emosi yang jalan, bukan pikiran yang bergerak, ya sudah, maka api kemarahan akan berkobar-kobar, maka akan terjadilah bakar-bakaran beneran! Lihat saja betapa banyak orang yang tak mampu mengendalikan emosinya, hatinya terbakar, maka fisiknya ikut membakar, maka benda-bendapun menjadi sasaran pembakaran! Kenapa bisa terjadi? Ya karena tak bijak menghapai hinaan tadi, tak bijak menghadapi kritikan tadi. Hinaan bukan dihadapi dengan pikiran yang tetap positif, tapi emosional.



       Jadi singkat kata, hadapi hinaan tadi dengan EGP, Emangnya Gue Pikirin, dalam arti cuekin aja hinaan itu, nanti juga hilang dengan sendirinya. Atau hadapi hinaan tersebut dengan EGP yang lain, yaitu Empati, Giat bekerja atau giat usaha dan Pikiran yang positif. Dengan dua modal EGP tersebut, insya Allah tak mudah goyah, atau rendah diri gara-gara mendapat hinaan atau kritikan orang lain.  Belajarlah dari pohon mangga yang sedang berbuah, dilempari batu, yang melempari diberikan buahnya!


Sabtu, 09 Mei 2015

Kisetsu wa Tsugitsugi Shindeiku - Amazarashi Lyric [Tokyo Ghoul √A Ending]




Amazarashi

アマザラシ


季節は次々死んでいく
Kisetsu wa Tsugitsugi Shindeiku
=Satu Per Satu Musim Silih Berganti= 
Ost. Tokyo Ghoul Season 2-Ending



季節は次々死んでいく 絶命の声が風になる
色めく街の 酔えない男 月を見上げるのはここじゃ無粋
Kisetsu wa tsugitsugi shindeiku zetsumei no koe ga kaze ni naru
iromeku machi no yoenai otoko tsuki wo miageru no wa koko ja busui
— Satu per satu musim silih berganti dan suara penderitaan terbawa angin
— Seorang pria tak terpengaruh pesona kota menatap bulan dan menyadari betapa tak beradabnya semua ini

泥に足もつれる生活に 雨はアルコールの味がした
アパシーな目で 彷徨う街で 挙動不審のイノセント 駅前にて
Doro ni ashi mo tsureru seikatsu ni ame wa arukooru no aji ga shita
apashii na me de samayou machi de kyodou fushin no inosento ekimae nite
— Diantara hidup sehari-hari kaki terkena lumpur, hujan pun rasanya seperti alkohol
— Dengan tatapan curiga sambil berkeliling kota, mereka yang tak berdosa berkumpul di depan stasiun, bertindak mencurigakan

僕が僕と呼ぶには不確かな 半透明な影が生きてる風だ
雨に歌えば 雲は割れるか 賑やかな夏の干からびた命だ
Boku ga boku to yobu ni wa futashika na hantoumei na kage ga ikiteru fuu da
ame ni utaeba kumo wa wareru ka nigiyaka na natsu no hikarabita inochi da
— Aku merasa tak yakin bahwa aku adalah aku, seperti ada bayangan transparan yang muncul dalam hidupku
— Jika aku menyanyi di tengah hujan, akankah awan berpencar? Hidupku kering di tengah-tengah musim panas yang ramai ini

拝啓 忌まわしき過去に告ぐ 絶縁の詩
最低な日々の 最悪な夢の 残骸を捨てては行けず ここで息絶えようと
後世 花は咲き君に伝う 変遷の詩
苦悩にまみれて 嘆き悲しみ それでも途絶えぬ歌に 陽は射さずとも
Haikei imawashiki kako ni tsugu zetsuen no shi saitei na
hibi no saiaku na yume no zangai wo sutete wa ikezu koko de iki taeyou to
kousei hana wa saki kimi ni tsutau hensen no shi kunou ni
mamirete nageki kanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo
— Masa laluku sayang, untukmu aku berikan puisi perpisahan ini!
— Aku telah membuang sisa-sisa hari ini, mimpi terburuk yang membuatku sesak
— Karena bunga akan mekar untuk memberitahumu sebuah puisi yang diwariskan
— Sebuah lagu yang penuh penderitaan, duka dan kesedihan, tapi tak pernah mati bahkan tanpa sinar matahari

明日は次々死んでいく 急いても追いつけず過去になる
生き急げ僕ら 灯る火はせつな 生きる意味などは後からつく
Ashita wa tsugitsugi shindeiku seitemo oitsukezu kako ni naru
iki isoge bokura tomoru hi wa setsuna ikiru imi nado wa ato kara tsuku
— Satu per satu hari esok silih berganti, meskipun kau terburu-buru mengejar masa lalu, itu tak akan kembali
— Tapi kita yang terburu-buru, menyalakan api kesedihan, dan kita selalu temukan makna kehidupan

君が君でいるには不確かな 不安定な自我が 君を嫌おうと
せめて歌えば 闇は晴れるか 根腐れた夢に預かった命だ
Kimi ga kimi de iru ni wa futashika na fuantei na jiga ga kimi wo kiraou to
semete utaeba yami wa hareru ka ne kusareta yume ni azukatta inochi da
— Kau tak yakin bahwa kau adalah kau, egomu yang tak stabil membahayakanmu
— Kau hanya bisa bernyanyi, akankah kegelapan dalam hidupmu menghilang? Hidupmu telah diserahkan pada mimpi buruk

拝啓 忌まわしき過去に告ぐ 絶縁の詩
最低な日々の 最悪な夢の 残骸を捨てては行けず ここで息絶えようと
後世 花は咲き君に伝う 変遷の詩
苦悩にまみれて 嘆き悲しみ それでも途絶えぬ歌に 陽は射さずとも
Haikei imawashiki kako ni tsugu zetsuen no shi saitei na
hibi no saiaku na yume no zangai wo sutete wa ikezu koko de iki taeyou to
kousei hana wa saki kimi ni tsutau hensen no shi kunou ni
mamirete nageki kanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo
— Masa laluku sayang, untukmu aku berikan puisi perpisahan ini
— Aku telah membuang sisa-sisa hari ini, mimpi terburuk yang membuatku sesak
— Karena bunga akan mekar untuk memberitahumu sebuah puisi yang diwariskan
— Sebuah lagu yang penuh penderitaan, duka dan kesedihan, tapi tak pernah mati bahkan tanpa sinar matahari

疲れた顔に足を引きずって 照り返す夕日に顔をしかめて
行こうか 戻ろうか 悩みはするけど しばらくすれば 歩き出す背中
Tsukareta kao ni ashi wo hikizutte terikaesu yuuhi ni kao wo shikamete
ikou ka modorou ka nayami wa suru kedo shibaraku sureba arukidasu senaka
— Dengan wajah lelah, tertatih-tatih, menyipitkan mata menatap senja
— Kita ingin tahu jika ada masalah apakah kita harus pergi atau kembali ke awal

そうだ行かねばならぬ 何はなくとも生きて行くのだ
僕らは どうせ拾った命だ ここに置いてくよ なけなしの
Sou da ikaneba naranu naniwanakutomo ikite iku no da
bokura wa douse hirotta inochi da koko ni oiteku yo nakenashi no
— Kita pasti akan mendapat kesulitan dalam hidup, tapi kita harus menghadapinya
— Kita harus tetap menjalaninya, bahkan tanpa apapun, kita harus terus hidup!

拝啓 今は亡き過去を想う 望郷の詩
最低な日々が 最悪な夢が 始まりだったと思えば 随分遠くだ
どうせ花は散り 輪廻の輪に還る命 苦悩にまみれて 嘆き悲しみ
それでも途絶えぬ歌に 陽は射さずとも
Haikei ima wa naki kako wo omou boukyou no shi saitei na
hibi ga saiaku na yume ga hajimari datta to omoeba zuibun tooku da
douse hana wa chiri rinne no wa ni kaeru inochi kunou ni
mamirete nageki kanashimi soredemo todaenu uta ni hi wa sasazu tomo
— Masa laluku sayang, untukmu aku berikan puisi perpisahan ini!
— Aku telah membuang sisa-sisa hari ini, mimpi terburuk yang membuatku sesak
— Karena bunga akan mekar untuk memberitahumu sebuah puisi yang diwariskan
— Sebuah lagu yang penuh penderitaan, duka dan kesedihan, tapi tak pernah mati bahkan tanpa sinar matahari

季節は次々生き返る
Kisetsu wa tsugitsugi ikikaeru.
— Satu per satu musim silih berganti








 

Minggu, 01 Februari 2015

Waktu


۩۞۩ سْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم ۩۞۩

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh..
 
 
       Dulu aku menyukai langit karena aku merasa langit adil. Tak pernah membeda-bedakan siapapun yang memandangnya. Ia tetap menampakkan hal yang sama, yaitu keindahan. Dimanapun aku berdiri, aku akan memandang langit yang sama. Langit yang begitu luas. Saking luasnya aku bahkan sampai lupa betapa sempitnya tempat dimana aku berpijak. Namun kini aku memiliki alasan lain untuk menyukai langit. Tempat yang tinggi dan luas menyadarkanku bahwa aku tidak akan pernah bisa meraihnya. Sekalipun aku terbang ke angkasa, sesungguhnya semua hanyalah ilusi. Aku tetap tak bisa menggapainya.

       Jika diibaratkan warna, dia biru dan aku jingga. Dua warna berbeda yang terikat dalam satu dimensi waktu yang sama dan singkat. Sesingkat saat fajar menyingsing di tepian cakrawala hingga tergelincir dan kembali ke peraduan. Sekali kami dipertemukan, tetap dalam waktu yang singkat. Seperti itulah keadaannya.


       Dari sekian banyak elemen yang ada, menurutku yang paling kuat adalah waktu. Entah waktu termasuk elemen atau bukan. Menurutku waktu sangat digdaya. Saking saktinya, waktu jadi sesuatu yang sangat, atau bahkan, paling berharga. apabila aku diberi kesempatan untuk memilih kekuatan super apa yang ingin aku miliki, aku akan memilih untuk dapat mengendalikan waktu. Semua kekuatan, baik itu seperti kuatnya Superman, entah itu gaya magnetnya Ironman, ataupun kehidupan cintanya Spiderman, semuanya nggak akan ada artinya bila dihentikan. Ya, mereka tunduk pada waktu.

        Dari sekian masaku dengan waktu, ada beberapa hal penting yang dapat kuungkap. Dan aku belajar dari itu semua.

Waktu itu menyembuhkan

       Ditinggalkan dia yang berharga. Diacuhkan oleh dia yang kau rindukan. Bahkan mengetahui dia telah memekarkan bunga dalam hatinya untuk orang lain.
Yang harus kulakukan hanyalah..menjadi lebih dewasa. Mikir tiada akhir? Buat apa? Lepaskan.. Biarlah dia sendiri yang memilih jalan hidupnya.

       Mengejutkannya, semua itu bisa sembuh. Memang banyak sekali alasan untuk menyembuhkan luka semacam itu. Misal dengan alasan ingin lebih fokus ujian, atau alasan lain yaitu sudah merelakan, atau dengan alasan basi yaitu sudah lupa. 

       Kita tidak tahu apakah kita masih diberi kesempatan untuk jatuh cinta lagi. Kita tak akan pernah bisa menduga apakah kita benar-benar merelakan. Dan tak pernah bisa menebak apakah bisa melupakan. Semua tidak akan kita ketahui bila kita tidak diberi kesempatan.

 Kesempatan itu butuh waktu.


Bila tidak menyembuhkan, minimal bisa menyadarkan

       Butuh waktu untuk sadar bahwa seseorang itu berharga. Tapi karena waktu itulah, dia membiarkan bukti-bukti sedikit demi sedikit bermunculan. Mencuat ke permukaan. Bukti bahwa sebenarnya yang kamu butuhkan adalah orang itu. Bukti bahwa sesungguhnya kamu bisa merelakan. Bukti bahwa sejatinya cinta itu harus memiliki, atau direlakan sama sekali.

Dan berapa waktu yang dibutuhkan? Nggak ada yang bisa mengira. Cuma waktu yang tau. 

Waktu adalah penguji yang teruji


       Semua ucapan, semua tindakan, semua harapan, semua angan-angan, bahkan sepertinya semua hal di dunia ini harus melewati ujian. Dan waktu seringkali menyajikan ujian yang nggak bisa ditahan. Nggak ada yang lebih meyakinkan dari sesuatu/seseorang yang sudah lulus diuji oleh waktu. Semua omong kosong berbalut manis yang keluar semasa kasmaran, semuanya cuma bisa dibuktikan melalui ujian melewati waktu.

       Sayangnya, kita sebagai manusia sering terlalu nggak sabaran. Menyimpulkan dan mengambil keputusan padahal yang dibutuhkan cuma sabar dan kebijaksanaan. Penyesalan datang dan mengungkap semuanya. Lagi-lagi, dalam hal penyesalan sekalipun, yang paling berperan adalah sang waktu.


      Waktu telah menguji semuanya. Semuanya. Semua bisa terungkap karena waktu. Terima kasih waktu, terutama..seseorang yang memberiku sesuatu yang selalu mengingatkanku akan waktu..karenamu..aku mengetahui banyak hal. Hal yang bisa diungkap, hal yang hanya sekedar dirasa, ataupun hal yang tak terungkap dengan kata..

       Suatu waktu, aku merasa ditelan oleh waktu. Terbang dan mendarat di atas puing-puing berbagai dimensi yang berserakan. Dan aku merasa hilang...
Hilang
Hilang
Hilang
Seakan hanya kata hilang yang selalu memutar di pikiranku.

"Bila aku tak baik untukmu
dan bila dia bahagia dirimu
aku kan pergi
meski hati tak akan....
rela..." 

Aku berhenti sejenak dan menghayati lagu macam apa yang memutar di kepalaku. Terhanyut dalam angin malam yang menembus tulang-tulangku. Sambil mengahayati lirik macam lagu yang tiba-tiba datang disaat aku tak ingin memikirkannya lagi.


       Pada malam itu aku hanya ingin tidur. Istirahat untuk persiapan bimbel diknas esok hari. Dan nyatanya, satu alunan lagu bisu yang tiba-tiba bermain di kepalaku berhasil membuat kantukku memudar. Aku hanya berharap waktu cepat berlalu.

       ***

       Perlahan membuka mata, Astagfirullah ... Tidur hanya 3 jam. Bagaimana bisa lekas sembuh bila rundown untuk tidur sangat kurang sekali? Baru saja aku sehari masuk sekolah, hari Sabtu ke sekolah lagi. Aku hanya tidak ingin berlama-lama lagi mendekap mata untuk tidak melihat dunia luar hanya karena sakit. Sakit memang menyebalkan. Entah darimana datangnya sakit ini. Makan? Teratur. Olahraga? Beres. Mungkin aku harus mengurangi pikiranku yang berlebihan saat memikirkan sesuatu. Tugas, deadline, tryout, Sabtu yang tidak libur, Selasa-Jumat pulang jam 8 malam, atau...memikirkan orang itu.

       Udara segar temaniku pagi ini. Sabtu yang indah untuk menuntut ilmu. Dengan seenaknya aku menghidup nafas dalam-dalam. SubhanAllah sungguh aku menjadi orang yang beruntung karena telah mendapat kesempatan menyaksikan pagi yang indah ini.

       Aku tiba di sekolah.
"Terlalu awal.", gumamku.
Sambil menunggu anak yang lain datang, aku segera mengambil mukena dan menuju mushola. Sayang, pintunya tidak terbuka. Meski mengambil keputusan untuk sholat di latar mushola, air wudlunya pun tidak mau menyala. Apa boleh buat, aku hanya bisa duduk mengamati taman di depan mushola sekolahku. Sepi. Sesepi hidupku kini yang tanpa seorang teman. Aku tidak memohon agar kesepian yang aku alami akan segera berakhir, tetapi aku hanya memohon untuk diberi kesabaran berlebih untuk melaluinya. Bersedih hati seorang diri memang menyakitkan. Tapi yang lebih menyakitkan adalah tiada tempat untuk berbagi saat kau merasa bahagia.

       Aku mengamati satu persatu tanaman yang ada di taman itu. Seakan mengamati, namun pikiran melayang entah kemana. Mulai memikirkan lirik lagu yang semalam sempat mengangguku.
"Tak akan rela? haha.", gumamku dalam hati sambil menahan senyum.

       Tidak rela? Sungguh memalukan bila memaksakan perasaan sendiri. Terlalu egois. Aku selalu percaya dengan kekuatan waktu. Sampai detik ini pun, aku percaya bahwa waktu dapat menyembuhkan segalanya. Aku pun percaya bahwa daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Seperti kata Darwis Tere Liye. Ya, aku percaya bahwa kehendak Allah-lah yang terbaik.


       Menjadi dewasa itu perlu. Aku bukan tipe orang pembenci seseorang karena satu kesalahannya. Aku selalu mengahargai kebaikan seseorang, pun walau aku merasa tiada seorangpun yang membalasnya. Aku tak akan pernah melupakan seribu kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahannya.

       Sepulang bimbel diknas dari sekolah, aku hanya ingin langsung pulang ke rumah. Hanya ingin sendiri, tapi akhirnya aku kembali ke peraduan sambil menemani teman se-SMP dulu yang juga datang ke sekolahku untuk mengikuti bimbel diknas. Di atas angkot, aku memandang langit. Langit yang aku kagumi, berubah menjadi kepalan-kepalan arum manis kelabu. Lama-kelamaan warna kelabu itu jadi merata. Perlahan-lahan hujan membasahi bumi pertiwi. 
"Nisa pinjem payungku ta? Nanti sakit lagi lho kalau kehujanan..", kata Windy.
"Gapapa kok, Win. Kamu aja yang pakai payung. Kan habis ini kamu juga turun."
Aku tersenyum, ya Allah..senang rasanya ternyata masih ada orang yang peduli padaku.

"Win, aku duluan ya..", pamitku pada Windy.
Aku menyusuri jalanan ditemani rintikan air hujan. Setapak demi setapak. Hujan? Mengapa selalu hujan? Basah kuyup aku dibuatnya. Aku memecahkan pandanganku ke atas. Dan pada akhirnya, lagi dan lagi, aku berakhir di bawah rintikan air hujan.


       Aku tidak pernah menyalahkan Ayah akan kejadian-kejadian menyedihkanku sekarang. Aku tidak pernah marah pada Ibu yang saat itu bilang bahwa ia tak memiliki uang lagi untuk melanjutkan studiku. Kini hidupku bergantung pada beasiswa. Aku hanya ingin meraihnya dan menjadi sukses. Aku ingin mengangkat derajat Ibuku kembali yang tengah jatuh. Ternyata begitu sulit. Dan sekali lagi, aku tidak berharap semua ini berakhir, aku hanya ingin diberi kesabaran lebih untuk melaluinya.



"Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau, kuat dan kokoh, mahal harganya. Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kau alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kau bisa bertahan, tidak hancur, maka kau akan tumbuh menjadi seorang yang berkarakter laksana intan. Kuat. Kokoh."


       Demi mendapat sesuatu yang aku harapkan untuk membahagiakan orang lain, aku sadar bahwa aku harus berkorban. Tak peduli sekeras apa rintangan itu. Aku tak akan menghiraukan. Kehidupan bagaikan batu, dan aku laksana ombak. Sekeras apapun batu itu, akan perlahan-lahan terkikis oleh air, walau hanya setetes demi setetes.

       Berbahagialah, carilah jalan hidupmu sesuka hatimu. Aku akan menghargai tiap detik yang kau habiskan karena bahagiamu. Ya..Bahagiamu. Berbahagialah selagi kau bahagia. Pergilah kemanapun kau ingin pergi. Peluk hatinya, dia lebih mengasihimu, dia lebih ..... (agak berat mengungkapnya). Aku akan tetap disini. Entah pada akhirnya kau datang ataupun tidak. Aku percaya bahwa Allah selalu mempunyai cara-Nya sendiri. Aku lebih mempercayai-Nya. Percayalah, jalanku telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Aku mengagumi matahari, karena aku menyukai sunset. Tapi aku tak akan membawa pulang matahari. Kalaupun itu bisa dilakukan, tidak akan aku lakukan. Aku mengagumi serumpun mawar yang berbunga warna-warni. Tetapi aku tak akan memotongnya, apa susahnya, tetapi tak akan pernah aku lakukan. Aku mengasihi kunang-kunang, indah cahayanya yang gemerlap bagaikan bintang saat malam datang. Tapi aku tak akan pernah menangkapnya, memasukkannya dalam botol untuk menghiasi meja makan. Tentu bisa dilakukan dengan jebakan. Kalaupun aku bisa menangkapnya, tidak akan pernah kulakukan.
Mengapa aku menganalogikan seperti itu? Egois sekali bila tetap kulakukan. Lihatlah, tiada lagi sunset tanpa matahari. Tiada lagi taman berwarna-warna tanpa mawar. Ataupun temaram malam tanpa kunang-kunang.
Aku membiarkannya tetap pada tempatnya. Membiarkan seperti apa adanya. Hanya menyimpan rasa kagum dalam hati untuk menikmatinya. Begitu seterusnya..

-Annisa Miftakhul Janna-