Sabtu, 01 Mei 2021

Thankyou and Goodbye, K and P Clinic!


Bismillahirrahmanirrahim.


       In my first few months I knew that I had grown as a vet. I had surprised myself that I could actually do the job at all. They told me that they would be very sorry to see me go. I was sorry to leave too - they had been extremely supportive over my internship time, and if I had any skills in veterinary medicine at all, I largely had them to thank for it. 

       I thought about the new vets that I was going to be working with, and about the people I was leaving behind. Doc Palestine said my presentation was well-prepared, and my theoritical science was strong, she said that would help me in my consultation room ahead. Doc Victor had been an excellent first role model. His approach to clients may have been different to any other vets, and he was a great logical thinker, moral man. More than anyone else in the practice, Doc Victor helped me understand that vets made mistakes, and that so long as they were honest, and learned from them, it wasn't the all-encompassing disaster that it felt like when it happened. And doc Vida, she was a hard person for me to understand, if I asked her about a case, she might not know any more about it than me, but she would talk it through, and make me feel like there must be a solution; everything had a solution. 




       The internship's students from UWKS, Via, Farah, and Vico were very nice too, they told me I was the most honest and funny and humble vet they had worked with, and that I should keep hold of that through my career. I thanked them, a little bemused, but determined to stick to their advice. We had worked many mornings, noons, and nights together; they had seen me at my worst, and, just occasionally, at my best. Andd I was going to miss Karina, Awalul, Bima, Melanie, and the other vetnurses a great deal. They had been my friends when I felt I had none, and helped to remind me that I was still a normal human being, despite the crazy career I had chosen. It all struck me then that, whatever our differences, we were just trying to get through the day however we could. Although we had different takes on it, we wanted to do the best job possible, for the clients, and for the animals. 




       I was about to head out into a new world, and I was about to encounter many more vets. Some vets wouldn't care at all; vets that were purely motivated by money, or were lethally incompetent. Although I didn't know it, I had been spoiled at K and P clinic. We all had our own goals, strong goals. I wanted to get back to mine, back to the reason I had wanted to do this job in the first place. Getting ready of my first year to be vet~


















Kamis, 27 Agustus 2020

Melangkah Seperti Jarum Detik

 


Bismillahirrahmanirrahim.

       Langit malam selalu begitu indah. Lembut ayunan angin mampu menerpa tanda tanya besar yang selalu melintas. Lembut senyum rembulan mampu mengusik jiwa yang pontang-panting mencari celah bahagia dalam kehidupan. Sesekali bintang muncul dalam selimut awan kelabu dan mendobrak kegelapan yang diciptakan malam.

       Namun.. Alhamdulillah... Aku bersyukur masih bisa menikmati hidupku malam hari ini. Aku bersyukur pula karena masih dapat berpikir jernih. Aku bersyukur karena aku masih sehat. Sinusitis yang mereda membuatku lebih bisa menikmati nafas demi nafas yang kuhirup. Banyak sekali. Terlalu banyak hal yang ingin aku syukuri. Hingga aku ragu untuk memilih mana yang lebih dahulu aku syukuri, nikmat yang diberiNya atau dosa yang ditutupiNya. Aku sadar...semua yang diberi Allah padaku hanyalah sebuah titipan. Kelak semua itu akan kembali pula pada Yang Maha Menitipkan sesuatu.

       Aku beranjak. Mengumpulkan tenaga, pikiran, dan segenap jiwa...agar terciptanya sepenggal kisah ini. Mengumpulkan kata demi kata agar terciptanya tulisan lagi dalam blog ini. Sejenak aku berpikir...sudah banyak hal yang kulalui tanpa sepatah kata kutunjukkan dalam blog ini. Benar. Sudah banyak hal yang kulalui tanpa kutulis dalam blog ini. Kehidupan baru, lembaran baru, dan sepotong hati yang baru. Malam hari ini tetap sama. Aku tetap mencintainya. Entah mengapa hari demi hari kian bertambah pula rasa yang kutitipkan pada Allah untuknya.

       Namun entah mengapa, malam yang datang itu hanya menghadirkan sepi. Mengapa malam tak pernah bertemu dengan mentari pagi? Ia selalu hilang saat mentari pagi muncul. Namun bagaimana dengan sepi yang dihadirkan malam? Apakah sepi juga akan menghilang perlahan mengepakkan sayap-sayap kegelisahannya saat mentari datang?

       Sepotong hati yang baru, aku menyebutnya. Terima kasih, tuan petualangku.. Harus ku akui. Kau yang membuatku sembuh...dari persepsi lamaku. Kesepian mendalam diriku, berbagai persepsi tentang diri yang aneh ini. Aku mendapat suatu pandangan baru. Aku tak tahu, tuan..harus membayar dengan apa. Karena kau menghadirkan kebahagiaan. Kebahagiaan, sesuatu yang selama ini kucari.

       Dalam sepi aku belajar untuk mengerti. Mengerti. Sudah seberapa lama aku melangkah. Sudah berapa panjang langkah yang kulalui tiap detiknya. Melangkah untuk sebuah perubahan. Untuk menjadi orang yang diterima dalam masyarakat. Melangkah. Dan melangkah. Tak peduli langkah itu dirasakan orang lain ataupun tidak.

       Sedihnya, sudah beberapa hari ini aku merangkak menuju kesembuhanku. Sedih sekali dalam satu hari harus menelan obat-obatan sebesar biji kurma selama tiga kali. Seperti kesedihan yang kurasakan saat mengingat sebuah mata yang mengisyaratkan kekaguman pada seseorang. Yang bukan aku. Aku selalu memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin tak kau sadari, Tuan. Sentuhan-sentuhan sederhana dan perhatian kecil yang kau tujukan untuk seseorang itu. Aku tahu.

       Ah. Intuisiku mengatakan hal tersebut benar. Mungkin memang sebaiknya aku yang pergi. Sudah memang seharusnya aku berteman dengan sepi. Lagipula, aku adalah seseorang yang tak pantas untuk siapapun. Apalagi kamu. Biar aku yang melangkahkan kaki ini, menuju dunia yang kumiliki. Duniaku. Dunia itu seperti dunia yang kita tinggali, memiliki tanah untuk dipijak, memiliki udara yang digunakan untuk menghirup dan menghela nafas panjang, dan memiliki langit indah untuk digapai. Kau tak akan menemukannya, karena dunia itu hanya untukku seorang. Detik demi detik yang kan berlalu, langkah demi langkah yang membawaku, biarlah aku tetap melangkah.


7th Rotation: Mikrobiologi Vet


 Bismillahirrahmanirrahim.

       Aku menulis ini saat libur satu minggu pasca rotasi departemen mikrobiologi veteriner. Memutar kembali memori perihal hal-hal yang kulakukan untuk persiapan hingga selesai departemen ini. Saat memasuki departemen mikrovet, kuliah masih dilakukan secara daring. Walau satu per satu dari kami kehilangan semangat, aku berusaha menepis itu dengan menghibur sendiri diriku, dengan hal-hal yang menyenangkan tentunya^^ salah satnya adalah mengembangkan bakat membuat kue.

       Lihatlah kue-kue itu, bomboloni. Aku membuat bomboloni saat liburan sebelum memasuki departemen mikrovet. Saat itu aku menambah varian rasa butter cheese. Voila! Aku tidak berbohong, filling butter cheese yang kubuat rasanya enak! HAHA. Tapi sayang, sisa dari yang digunakan mengisi bomboloni banyak sekali, mungkin lain kali aku akan mencoba seperempat resep saja. Iya. Padahal aku sudah membuat setengah resep, dan ternyata masih sisa cukup banyak. Aku memberikan sedikit bomboloni pada teman-temanku yang sedang berada di Surabaya.

       Jadi, ketika menjalankan koasistensi di departemen mikrovet, kita akan memasuki laboratorium bakteriologi dan mikologi dan laboratorium virologi dan immunologi. Aku dan sebelas orang kelompok kecilku memasuki lab. Bakmi. Ya, begitulah singkatan dari laboratorium bakteriologi dan mikologi. Jangan lapar lho ya! Kami memasuki lab bakmi pada tanggal 3 – 11 Agustus 2020. Seperti biasa, pada hari pertama kami mendapat pendahuluan dari dosen secara online melalui zoom meeting.

       Aku tidak berharap banyak dari kemampuanku di bidang mikrovet ini. Walaupun aku pernah menjadi aslab biologi molekuler, rasanya tidak ada kaitan dengan materi yang akan dilaksanakan di departemen ini haha. Mungkin bercanda, mungkin berkaitan, namun aku saja yang kurang mengeksplor diri. Karena aku tak mengharapkan banyak dari kemampuanku, aku mengawali kegiatan koasistensi dengan membuat catatan-catatan review perihal materi-materi dasar pada masa-masa kuliah dulu. Setidaknya, walau tak berharap pada kemampuan, tetap berjaga-jaga diri apabila tiba-tiba ditanya oleh dosen. Setidaknya, aku paham dengan pertanyaan tersebut, pikirku.

       Aku sangat bersyukur sekali di lab bakmi tugasnya hanya satu, membuat makalah penyakit. Itupun tidak semua penyakit. Ralat, tugas di lab bakmi ada dua, membuat makalah dan BELAJAR. Ya. Belajar. Karena penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri dan jamur tidak hanya satu, sangat banyak dan bermacam-macam. Selain mengidentifikasi dari segi patologi anatomis yang ditimbulkan, kami para mahasiswa wajib mengetahui penegakan diagnosa secara laboratoris. Seperti yang aku bilang barusan, bakteri penyebab penyakit infeksius itu tidak hanya satu, dan tentunya kita wajib paham perbedaan-perbedaan antara satu bakteri dan bakteri lain pada uji laboratoris, baik isolasi maupun identifikasi. Jadiiii...itulah mengapa belajar merupakan hal yang penting juga hehe. Kalau tidak belajar pasti bakal lebih pusing lagi karena tidak tahu apa yang dibicarakan, betul?

       Di tengah-tengah waktu belajar, aku mendatangi pernikahan temanku dari SMP yang hingga kini masih menjalin silaturahmi denganku. Cukup me-refresh-kan pikiran ini yang sudah diselimuti oleh bermacam-macam bakteri dan jamur! Anehnya, aku tidak lagi bertanya, “kapan ya...aku bisa menikmati momen seperti ini, menjadi pilihan seseorang?” tidak lagi. Apakah prinsipku telah berubah? Ataukah...karena dihantui oleh ujian bakmi?! Haha. Yap. Prinsipku dalam memandang cinta telah berubah.

       Ujian dilaksanakan pada hari Selasa. Tidak seperti orang lain di kelompokku yang berkata, “aku kok deg-degan ya!” Tidak. Aku biasa saja. Apakah ini berkaitan dengan aku yang tidak terlalu meyakini kemampuanku dalam hal ini? *menghela nafas panjang* Ujian kelompok kami secara lisan dengan dua dosen. Aku sangat menyayangkan sinyalku yang tidak konsisten pada saat ujian dengan dosen pertama. Aku hanya mendengar empat pertanyaan dari beliau..hh. tapi mungkin saat itu merupakan hari keberuntunganku karena aku dapat menjawab dengan mudah soal-soal tersebut, dengan sinyal yang putus-putus. Namun ternyata bukan karena sinyal yang tidak konsisten, hehe...padahal sudah suudzon ternyata karena zoom meeting yang telah ku update. Setelah menginstal aplikasi versi lama, wah benar juga! Kembali lancar jaya!

       Hari ujian yang tidak tenang, karena pendahuluan sebelum memasuki lab.virologi dilaksanakan pada hari yang sama dengan ujian. Tidak tenang karena waktu belajar untuk mempersiapkan ujian dengan dosen ke-dua menjadi terpotong! Yasudahlah, apa boleh buat, apapun yang terjadi, kembali pada kata awal dari kalimat ini. Walau begitu, ujian dengan dosen kedua alhamdulillah lancar, selain dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan, zoom yang ku gunakan juga tidak parah seperti saat ujian pertama. Alhamdulillah...aku menutup hari yang melelahkan dengan berbincang hangat dengan ibu.

       Memasuki lab viro pada tanggal 12 – 21 Agustus 2020. Cukup berbeda dengan lab bakmi, di lab viro mahasiswa tidak diwajibkan mengerjakan tugas saja..namun juga dituntut aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberi saat kuliah. Online. Tugas yang diberikan pada lab viro juga berbeda, di lab viro tugas diberikan oleh setiap dosen, dan dikumpulkan pada hari yang sama juga! Wadidaw! Saat memasuki lab viro, aku tidak membuat catatan-catatan kecil seperti yang kutulis saat sebelum memasuki lab bakmi, karena aku lebih sibuk membaca. Entah membaca buku salah satu dosen yang telah kubeli, atau membaca jurnal. Kuakui, aku menjadi lebih produktif ketika memasuki lab viro.

       Selain menjalankan kuliah yang biasa saja, aku dan teman-teman menjalankan kuliah yang sangat luar biasa dalam satu hari. Satu hari yang kami lalui dengan salah satu dosen muda di viro menjadi momen yang sangat mengesankan bagi mahasiswa seperti kami. Satu hari yang kami lalui, mulai mendengarkan materi pokok secara superfisial, membuat materi presentasi bersama kelompok yang terbagi, dan mempresentasikannya pada kelompok lain. Aku sangat tertegun dengan metode pembelajaran yang dianut oleh dosenku ini, sangat memacu untuk aktif, dan terlebih, membuat kami lebih mengeksplor materi-materi tersebut. Kami juga tertegun dengan suatu fasilitas teknologi yang tidak kami sadari sebelumnya. Dari pembelajaran satu hari tersebut, aku dapat menyimpulkan bahwa mengeksplor diri itu perlu, dan aku mendapat banyak pelajaran dari kegiatan satu hari tersebut, perihal intrapersonal skill juga. Terima kasih, Dok. Semoga bermanfaat selalu ilmunya karena telah menginspirasi kami semua 😊


       Kami tidak melakukan ujian secara tatap muka dengan dosen di lab viro. Semua tugas yang kami kerjakan merupakan acuan nilai dalam menjalankan koasistensi. Salah satu dosen kami mengatakan bahwa kekompakan itu sangat penting dilakukan, bagiku, tidak hanya sekarang, namun juga perlu diterapkan di masa mendatang.

Yap. Alhamdulillah satu departemen kembali terlewati.. departemen selanjutanya adalah departemen patologi veteriner. Huwah. Sepertinya aku tidak bisa mengandalkan kemampuanku kembali di departemen tersebut. Jadi yang harus dilakukan adalah...BELAJAR.

Ada suatu hal yang membuyarkan konsentrasiku sejenak. Sebuah semangat dari seorang teman, yang tidak kusadari sebelumnya bila telah tertulis dalam buku yang kumiliki. Yosh. Aku kan selalu semangat, terimakasih telah mengirimkan teman kecil untuk menemani saat-saat belajar^^

Terima kasih. Sampai jumpa lagi pada postingan selanjutnya! :)